Ziarah ke Tanah Suci tidak hanya sekadar mengunjungi tempat suci atau melihat situs peninggalan religius lainnya, melainkan sebuah pengalaman iman dan perjumpaan spiritual yang dialami lewat bantuan kenyataan indrawi dan konkret

.

Berikut ini adalah catatan singkat ‘Dua belas Hari Peziarahan ke Tanah Suci’ dari tanggal 19-31 Desember 2019.

Hari Pertama (19/12/2019): Jeddah dan Kairo. Perjalanan dimulai dari tempat masing-masing. Rombongan ziarah berasal dari berbagai daerah yakni Balikpapan, Palangka Raya, Bandung dan Jakarta. Sesuai kesepakatan, kami berkumpul di bandara Soekarno-Hatta untuk mengadakan penerbangan menuju Kairo-Mesir, transit di kota Jeddah, Kota Tua dengan situs terkenalnya Old Balad untuk sejenak menghirup udara Kota ini, meski hanya di Bandara.

Hari Kedua Peziarahan (20/12/2019). Kabut masih menggelantung di langit Kairo, kota yang berpenduduk sekitar 100 juta jiwa. Menembus kabut dan dinginnya kota, Bis yang kami tumpangi menyusuri sungai Nil, sungai terpanjang di dunia dan identik dengan sejarah Mesir, yakni sejak zaman Mesir kuno. Sungai Nil mempunyai peranan penting dalam peradaban, pertanian, kehidupan, dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu.

Dalam sejarah suci agama Yahudi, Katolik, Kristen, Ortodoks, dan Islam, sungai Nil menjadi tempat Musa ditemukan oleh Putri Firaun. Perziarahan dimulai dengan mengunjungi Keluarga Kudus di Mesir, tempat perlindungan dari kejaran raja Herodes. Tepatnya Gereja Abu Serga, Keluarga Kudus. Abu Serga Church, gereja Keluarga Kudus Kairo adalah tempat St. Yoseph, Bunda Maria dan bayi Yesus mengungsi dari kejaran raja Herodes, dalam kisah Pengungsian ke Mesir. Sebagaimana dikisahkan dalam injil Matius 2:13-15.

Dari gereja Keluarga Kudus, kami menuju tempat Musa ditemukan oleh putri Firaun yang terapung di Sungai Nil. Di tempat itu, kini berdirilah Sinagoga Ben Ezra. Dari tempat terdamparnya nabi Musa, peziarahan kami lanjutkan menuju gereja Gantung. Gereja tersebut disebut dengan Gereja Gantung, atau El-Muallaqa karena bangunan gereja dibuat menggantung di atas gerbang selatan Benteng Romawi kuno. Gereja Gantung biasa disebut juga dengan Gereja Tangga, karena bangunan itu memiliki 29 anak tangga menuju pintu masuknya.

Kami juga mengunjungi took Papyrus, bahan pembuat kertas tertua di dunia. Akhirnya, belum lengkap jika tidak mengunjungi Piramida. Piramida (El Haram) merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Peziarahan ditutup dengan santap malam (Dinner Cruise) di atas kapal pesiar di Sungai Nil sambil menikmati tarian-tarian Mesir.

Baca Juga :

Hari Ketiga Peziarahan (21/12/2019). Matahari masih bersembunyi di peraduannya. Morning call memutus mimpi dan membangunkan kesadaran yang lelap. Kami meninggalkan kota Kairo. Karena tempat yang dituju masih jauh, Tour guide menawarkan agar kami mengunjungi tempat penjualan minyak Narwastu. Minyak harum yang sangat mahal ini berasal dari tumbuhan atau tanaman Narwastu yang hidup di pegunungan Himalaya. Parfum narwastu digunakan untuk mengurapi Yesus (tercatat di Mat. 26:6-13; Mark. 14:1-9; Yoh. 12:1-8).

Dari situ kami menuju bukit Mokattam. Di atas bukit itulah berdiri gereja Mukjizat atau orang Indonesia menyebutnya gereja sampah karena melewati pemukiman dan areah sampah. Nama asli gereja Mukjizat sebenarnya adalah Gereja Santa Perawan Maria dan St. Simon the Tanner. Di kawasan itu terdapat beberapa bangunan di sekitar, yaitu Gereja St. Bola, Gereja St. Markus, dan Aula Simon the Tanner.

Kami lalu meninggalkan kota Kairo yang penuh cerita dan sejarah menuju kota Sharm el-Sheikh. Kota ini menjadi tempat wisata paling populer yang mendapat julukan dari para turis sebagai “surganya” Timur Tengah karena keindahan alam bawah lautnya. Di kota ini kami menyusuri Laut Merah dengan menumpang sebuah glass boat untuk menikmati pemandangan bawah laut dan menikmati pemandangan kota Sharm El sheikh yang eksotis.

Hari Keempat Peziarahan (22/12/2019). Perjalanan hari ini menuju Biara Santa Katarina dan Gunung Sinai. Sebelum ke melintasi Padang Gurun menuju biara tersebut, kami mengadakan misa di gereja Madonna de la Pace. Kami sempat berhenti sejenak di tempat “Anak Lembu Emas.” Belasan kali mobil berhenti di pos pemeriksaan untuk check poin. Semuanya berjalan lancar. Kami menuju kaki gunung Sinai, tempat Tuhan berbicara kepada Musa untuk pertama kalinya dalam peristiwa “Semak Duri yang Menyala.” Sedangkan di atas puncak gunung, Tuhan memberikan 10 Perintah dalam 2 log batu. Di tempat itu berdirilah biara Santa Katarina yang dibangun pada abad ke V.

Biara ini kini dijaga oleh sekitar 80 biarawan dari Yunani. Dari kaki gunung Sinai, sebagian mendaki ke puncak Sinai dan sebagian menuju ke kota Taba, kota yang berbatasan dengan Israel dan Yordania.

Hari Kelima Peziarahan (23/12/2019): Perbatasan Mesir dan Israel. Perjalanan memasuki Israel bermula dari kota Eilat. Kota Eiliat merupakan kota pelabuhan yang terletak di Israel bagian selatan, diapit oleh Taba, Mesir dan teluk Aqaba, Yordania. Dalam Kitab Bilangan 33, kota Eiliat bersama dengan Ezion Geber disebut sebagai tempat dimana orang Israel membuat kemah peristirahatan dalam perjalanan panjang selama 40 tahun keluar dari Mesir.

Perjalanan kami melewati pesisir Laut Mati dan daerah Sodom dan Gomora, yang kini tinggal kenangan. Perjalanan kami teruskan menuju Qumran. Dalam kompleks tersebut terdapat biara dengan nama “Khirbet Qumran,” yang dibangun oleh kaum Esseni. Kaum ini sangat taat menjalankan taurat Musa. Di tempat ini, para Biarawan Yahudi dahulu menetap dan menyalin Kitab Suci dalam lembar Papyrus dan lempengan batu. Di tempat ini pula, Yohanes Pembaptis pernah tinggal, sebelum membaptis Yesus di sungai Yordan.

Dari Qumran, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Yeriko. Kami mengadakan perayaan ekaristi di gereja Paroki Yesus Gembala Baik, Good Shepherd Church. Kota Yerikho yang dikenal dari kisah-kisah Perjanjian Baru adalah Yerikho yang dibangun oleh Raja Herodes Agung. Kami mengunjungi sumur Elisa di kota Yerikho. Dari sumber Mata Air Elisa, kami singgah di pohon Arah yang dipanjat oleh Zakheus untuk dapat melihat Yesus. Pohon itu masih berdiri kokoh di tepi jalan yang pernah dilewati Yesus.

Di kota ini pula, Yesus menyembuhkan Bartimeus yang buta. Peziarahan kami lanjutkan ke Bukit Pencobaan (Jabal Quruntul), tempat Yesus dicobai tiga kali oleh setan. Dari Yeriko, kami menuju Yerusalem. Rasa suka cita memasuki Yerusalem tidak kami tutupi. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, ketika kota tempat Tabut Perjanjian ini kami datangi. Di Yerusalem, kota mulia, kami bermalam.

Hari Keenam Peziarahan (24/12/2019): Merayakan Natal di Padang Gembala Betlehem. Matahari belum muncul di ufuk timur. Udara pagi masih begitu dingin. Dari Hotel Jacir Palace Betlehem, bis Royal Tour yang kami tumpangi bergerak melewati jalanan kota tanah suci Betlehem untuk melanjutkan peziarahan. Beit Lahm atau Betlehem adalah salah satu kota penting di Tepi Barat, Palestina, sekitar 10 kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Nama Betlehem berarti rumah roti atau rumah daging (dalam bahasa Arab).

Perjalanan hari ini dimulai dengan mengunjungi Nativity Church (gereja Kelahiran Yesus). Di tempat itulah Yesus Sang Juru Selamat dilahirkan dalam sebuah gua (kandang) domba dari batu alamiah. Di atas kandang tempat kelahiran Yesus, dibangun sebuah gereja dan diberi nama Gereja Nativity. Gereja ini dibangun oleh Kaisar Konstantinus Agung pada tahun 327 atas permintaan ibunya, Helena. Dari Gereja Kelahiran, kami mengunjungi Bukit Zaitun. Bukit Zaitun disebut dalam Perjanjian Lama sebagai tempat ketika Yesus naik ke surga, mengajarkan doa Bapa Kami dan tempat Yesus berdoa.

Bukit Zaitun juga adalah tempat Yesus mengutus para rasul-Nya ke seluruh dunia untuk menyampaikan Kabar Gembira Injil. Kami menuruni puncak Bukit Zaitun menuju Gereja Dominus Flevit (Tuhan menangis). Sebelah kiri jalan, terdapat Makam Para Nabi. Gereja Domuns Flevit didirikan untuk mengenang tangis Yesus atas Kota Suci Yerusalem pada waktu Ia memasukinya dengan jaya pada hari Minggu menjelang sengsara dan wafat-Nya. Akhirnya kami menuju Taman Getzemani. Di sinilah,Yesus berdoa kepada Bapa sebelum Ia mengalami sengsara.

Di sinilah, Yesus merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya dan para murid. Di sinilah, Yudas Iskariot mengkhianati Yesus. Di sinilah, 8 pohon Zaitun sejak zaman Yesus menjadi saksi kekejaman para prajurit yang menangkap Yesus. Dan kini, di taman ini, berdirilah gereja “Segala Bangsa” ang didesain oleh Antonio Barluzzi, seorang imam Fransiskan berkebangsaan Italia.

Peziarahan yang telah melewati padang gurun dan tempat-tempat suci lainnya, mengantar kami pada Padang Gembala atau Padang Efrata. Di padang ini, para gembala sederhana menjadi saksi pertama warta kelahiran Yesus oleh malaikat. Di kawasan tersebut, beberapa gua tempat berlindung kawanan domba dan gembala nampak di lokasi ini dimana pada beberapa bagiannya sudah didirikan Gereja berbentuk kubah di bagian atasnya yang dikenal dengan nama Gereja Gloria In Excelsis Deo.

Di Padang Gembala, kami merayakan misa malam natal. Lima imam, dari lima gruop toure hadir dalam Perayaan Ekaristi malam Natal dalam suasana yang sederhana, sebagaimana kesederhanaan para gembala yang mendengar warta kelahiran Yesus.

Bersambung ke part II

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here