Hari Ketujuh Peziarahan (25/12/2019): Kota Tua Yerusalem. Peziarahan kami sampai pada Kota Tua, tempat yang menjadi pusat dan inti sejarah panjang Yerusalem.

Meski hari masih pagi, daerah ini sudah dipenuhi oleh para pengunjung atau peziarah. Di sepanjang lorong, berjejer banyak pedagang valuta asing, penjual kaset yang berderet, penjual pakaian dan permata, serta para penjaja souvenir. Hilir mudik dan lalu-lalang manusia sangat padat. Kami harus waspada. Langkah kami dengan yakin memasuki labirin gang-gang sempit dan arsitektur bersejarah yang menandai empat penjuru kota – kawasan Kristen, Muslim, Yahudi dan Armenia. Dikelilingi oleh dinding batu berupa benteng tempat berdirinya sejumlah situs tersuci di dunia.

Inilah Yerusalem; sebuah nama yang terus bergema di hati sebagian umat Kristen, Yahudi dan Muslim. Inilah Yerusalem, kota mulia yang menjadi dambaan setiap orang. Dalam bahasa Ibrani disebut Yerushalayim dan dalam bahasa Arab disebut al-Quds.

Kami memasuki Kota Tua melalui gerbang Jaffa (terdapat 12 gerbang memasuki Kota Tua). Langkah kami dengan yakin memasuki labirin gang-gang sempit dan arsitektur bersejarah yang menandai empat penjuru kota – kawasan Kristen, Muslim, Yahudi dan Armenia. Di dalam Kota Tua, terdapat banyak situs dan tempat-tempat suci ketiga agama Samawi.

Pertama, Kristen: Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulcher). Gereja Makam Kudus dikelola bersama oleh enam denominasi Kristen yaitu Katolik, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks Koptik. Setiap gereja memiliki biarawan yang bermukim di kompleks ini. Pemegang kunci makam adalah seorang yang beragama Islam sejak ratusan tahun yang lalu.

Kedua, Yahudi: Tembok Ratapan atau Wailing Wall. Tembok Ratapan merupakan tembok yang masih tersisa dan bertahan dari Bait Suci pertama Yerusalem yang dibangun raja Salomo. Disebut Tembok Ratapan karena banyak umat Yahudi meratapi kehancuran Bait Suci mereka pada tahun 70. Ketiga, Islam: Masjid al-Aqsa (Haram al-Sharif). Konon katanya, Masjid al-Aqsa merupakan tempat tersuci ketiga dalam Islam setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di kota Tua ini pula, kami menelusuri “Via Dolorosa”, napak tilas untuk mengikuti jejak sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.

Hari Kedelapan peziarahan (26/12/2019): Kaisarea Maritim, Gunung Carmel, Taman Bahai, Kana dan Danau Galilea. Hari ini kami menuju Tiberias. Ada beberapa tempat yang kami singgahi selama perjalanan yakni Emaus dan Kaisarea Maritim. Lalu perjalanan kami lanjutkan menuju gunung Carmel.

Di gunung ini, nabi Elia mengalahkan baal-baal yang berjumlah sekitar 400 an. Di sini pula, nabi Elia membuat api menyala (1 Raj 18). Di Gunung Carmel, kini dibangun biara Carmel Stela Maris dan sebuah gereja di atas gua Elia milik ordo Carmel.

Di dekat itu, terdapat suatu taman indah yang dikenal dengan nama Baha’i Garden atau Taman Bahai, Haifa. Kami menuruni gunung Carmel menuju Kana. Kota Kana merupakan sebuah kota kecil yang berada di perbatasan antara Israel dan Lebanon. Dalam Kitab Suci diceritakan bahwa di Kana, Yesus melakukan mukjizat untuk pertama kalinya berdasarkan permintaan dari ibu-Nya untuk mengubah air menjadi anggur dalam sebuah acara pernikahan (Yoh 2: 1-11).

Baca Juga :

Di tempat berrahmat ini, 7 pasang suami-istri rombongan tour membaharui janji pernikahan mereka dalam Perayaan Ekaristi. Dari kana, kami menuju Nazareth, tempat Yesus dibesarkan dalam asuhan Maria dan Yoseph. Setelah kelahiran Yesus di Betlehem, Keluarga Kudus mengungsi ke Mesir hingga Herodes meninggal. Lalu mereka kembali ke Nazareth. Di kota ini terdapat sebuah Basilica of the Annunciation.

Gereja ini menjadi gereja Katolik terbesar di Timur Tengah, serta didedikasikan untuk Paus Paulus VI. Dari Nazareth, kami menuju danau Galilea. Di tempat inilah Yesus berkeliling untuk mewartakan Kerajaan Allah dan membuat banyak mukjizat.

Hari Kesembilan Peziarahan (27/12/2019): Gunung Hermon, Tabgha, Gunung Tabor dan Armageddon. Sepanjang tepi jalan dari Tiberias menuju gunung Hermon, terlihat hamparan hijau dedaunan. Tanah di wilayah ini memang subur karena dilalui oleh sungai Yordan. Namun kami tidak bisa mencapai puncak gunung Hermon karena telah diselimuti salju. Kami hanya bisa sampai di kaki gunung.

Dari gunung Hermon, kami berziarah ke gereja-gereja yang di wilayah Tabgha yakni gereja Sabda Bahagia, tempat Yesus menyampaikan ucapan-ucapan bahagia (Mat.5:1-12), gereja Penggandaan Roti, tempat Yesus membuat mujizat dengan memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan (Mat.14:13-21), gereja Primat St. Petrus, tempat dimana terjadi percakapan antara Yesus dan Petrus di tepi Danau Galilea (Yoh.21:15-19). Dan akhirnya kami berziarah ke Kapernaum, The Town of Jesus.

Di situlah Yesus tinggal dan melaksanakan tugas pewartaan-Nya serta membuat banyak mujizat (Mat.4:13). Perjalanan kami lanjutkan menuju gunung Tabor, tempat Yesus dimuliakan di atas gunung dalam peristiwa Transfigurasi. Di puncak gunung ini terdapat Basilika Transfigurasi serta biara Fransiskan. Dari atas gereja Transifuligurasi, kami memandang lembah Armageddon. Armageddon adalah lokasi yang menurut kitab Wahyu menjadi tempat pertarungan terakhir antara kebaikan dan kejahatan.

Hari Kesepuluh Peziarahan (28/12/2019): Yardenit dan Yordania. Kabut tebal mengantung di langit, saat bus Royal Tour yang kami tumpangi beranjak dari tempat penginapan. Rinai gerimis pagi yang membasahi jalanan kota Tiberias, mengiringi perjalanan kami menuju Yardenit. Jalanan tampak lengang. Tidak terlihat ramai lalu lintas kendaraan dan hilir mudik warga. Selain karena cuaca yang mendukung untuk tidak ke luar rumah, tetapi juga karena hari ini merupakan waktu khusus bagi orang Yahudi.

Hari ini adalah hari Sabat. Lalu lintas sepi. Tempat pelayanan publik juga ditutup karena orang Yahudi berdoa. Tidak berselang, bus memasuki area parkir di Yardenit. Yardenit merupakan situs Baptisan yang popular bagi peziarah yang mengunjungi Tanah Suci. Tempat ini dibuka oleh Pemerintah Israel untuk memperingati peristiea pembaptisan di tepi sungai Yordan yang dilakuakn Yohanes Pembaptis.

Dari tempat ini, air mengalir menuju sungai Yordan dan akhirnya mengalir ke Laut Mati. Rombongan kami memasuki kawasan tersebut. Aneka tanaman hijau, bunga-bunga yang indah terlihat tumbuh subur di pinggir aliran sungai. Ada beberapa ruang yang disediakan bagi para pengunjung untuk mengadakan pembaharuan janji baptis. Terdapat sebuah bangunan utama dari batu kapur alami berbentuk seperti gereja.

Di dalamnya ada area untuk menyewa atau membeli jubah baptis, toko suvenir yang menjual barang-barang religius langka. Yardenit merupakan situs Baptisan yang popular bagi peziarah yang mengunjungi Tanah Suci. Tempat ini dibuka oleh Pemerintah Israel untuk memperingati peristiwa pembaptisan di tepi sungai Yordan yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Dari tempat ini, air mengalir menuju sungai Yordan dan akhirnya mengalir ke Laut Mati. Dari Yardenit, kami menuju perbatasan Isarel untuk memasuki negara Yordania. Yordania berbatasan dengan Suriah di Utara, Irak di Timur, Israel dan Palestina di Barat, dan Arab Saudi di Timur dan Selatannya. Tanah di daerah ini sangat subur.

Itulah sebabnya sepanjang perjalanan kami melihat hamparan tanaman subur yang menghijau permai dan green house yang memuat banyak pohon pisang. Di lereng-lereng bukit terlihat banyak gua. Ada yang asli, ada pula yang dipahat. Gua-gua tersebut adalah deretan makam zaman dahulu.

Hari Kesebelas Peziarahan (29/12/2019): Laut Mati dan Kota Petra. Semburat mentari nampak keemasan di timur Lembah Sungai Yordan. Gumpalan kabut yang beberapa hari ini menyelimuti bumi, perlahan menghindar. Pagi ini lain dari pagi sebelumnya. Matahari tersenyum, memancarkan kehangatan. Tidak jauh dari Hotel Grand East, kami bisa bermain-main dengan Laut mati, tak peduli sejuk pagi masih menusuk sekujur tubuh. Ini adalah kesempatan terakhir untuk berrendam atau terapung di atasnya.

Laut Mati adalah wilayah paling rendah di dunia, yaitu 417,5 meter di bawah permukaan laut. Aliran air dari danau Galilea (yang berasal dari Sungai Yordan) mengalir ke daerah ini dan terjebak di sana, tanpa dapat dialirkan ke laut lepas. Sebenarnya lebih tepat disebut danau, namun karena kadar garamnya yang tinggi, orang menyebutnya laut. Disebut Mati, karena tidak ada makhluk yang hidup di dalamnya. Beberapa di antara kami berrendam dan terapung di atasnya.

Kami segera melanjutkan perjalanan menuju kota Petra. Petra, kota batu karang, merupakan kawasan wisata di Yordania yang terkenal dengan sebutan ‘The Red Rose City’. Tempat ini tersohor di seluruh penjuru dunia karena masuk dalam daftar Tujuh Keajaiban Dunia. Apalagi setelah film ‘Transformer’ dan ‘Indiana Jones’ mengambil latar tempat di sana.

Hari Keduabelas Peziarahan (30/12/2019): Sumur Musa, Gunung Nebo dan Indonesia. Cahaya keemasan mentari pagi menyapa perbukitan yang mengelilingi kota Petra. Tampak panorama pagi nan cerah, meski dingin tetap merengsek masuk ke sekujur tubuh. Kami beranjak dari tempat penginapan melewati daerah perbukitan Ashara yang sedang berselimutkan sinar emas sang surya ini. Lembah Musa, Wadi Musa kami tinggalkan, menuju gunung Nebo, makam Musa.

Perjalanan menuju gunung Nebo melewati Sumur Musa. Setelah menyentuh air Sumur Musa, kami menuju gunung Nebo. Kami tak perlu jalan kaki lagi. Perjalanan menuju gunung Nebo ditempuh selama 4 jam dari kota Petra dengan bus. Sebelum tiba di punak Nebo, ada sebuah kota yang disebut dalam Alkitab yakni Medebah, ibu kota Philadelpiah, sekarang bernama Madabah. Kota ini dikenal dengan kota Mozaik bahkan mendapat julukan ibu kota Mozaik. Lukisan-lukisan dari batu-batu Mozaik berasal daei kota Madabah. Tidak jauh dari kota ini, terdapat Puncak Nebo.

Di puncak gunung Nebo, Tuhan memperlihatkan kepada Musa tanah yang dijanjikan Allah untuk Israel pertama kalinya. Hamparan kota yang indah dan subur ini disediakan Tuhan bagi umat-Nya, sekalipun umat memberontak dan menyeleweng dari perintah Tuhan. Di puncak gunung ini, terdapat simbol salib besar dari perunggu yang dibuat oleh seniman Italia, Giovani Fantoni. Simbol ini menandakan tiang yang dililit ular tembaga yang dibuat oleh Musa.

Selain tiang tongkat Nabi Musa, dipuncak ini terdapat sebuah gereja yang indah yang dibangun masa Bizantium oleh umat Kristen awal yakni pada tahun 400. Di dalam gereja ada batu-batu mozaik zaman dahulu. Ordo Fransiskan mengelolah kawasan ini. Terdapat pula Sygha atau bekas makam Nabi Musa. Di tempat inilah Musa wafat dan dimakamkan. Pada tanggal 19 Maret 2000, bertepatan dengan HR St. Yoseph Suami Maria, Mendiang Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke tempat ini dan mengadakan Misa serta menanam pohon zaitun sebagai simbol perdamaian. Di tempat ini, didirikan monumen kunjungan Sri Paus tersebut.

Kunjungan di puncak gunung Nebo adalah acara terakhir dari 12 hari Peziarahan di tanah suci. Sebagai penutupan, kami mengadakan Misa di puncak Nebo dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke tanah air, Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here